Monday, July 26, 2010

terima kasih rumah tua..

Tata Surya no. 23 sudah terlalu lekat dengan saya. Dua puluh satu tahun kami tinggal di sini. Dan kamis nanti, tepat di hari ulang tahun saya yang ke-30, kami sekeluarga akan pindah ke rumah baru.

Sudah saatnya. Rumah ini terlalu besar untuk kami berempat. Sudah malas membersihkannya dan lagi rumah yang terletak di jantung margahayu ini sudah terlalu bising. Kasian kalau terus terusan melihat bapak selalu kaget akibat motor yang kebut-kebutan dan macet di sore hari karena sudah terlalu banyak pedagang di sepanjang jalan tata surya. . Jantungnya sudah tidak sekuat dulu.

Kami sepakat untuk pindah.

Semua sudah dipak dan siap untuk menempati rumah baru kecuali kamar saya. Kamar saya masih berantakan seperti biasa karena walaupun saya yang paling semangat untuk pindah tapi entah kenapa ketika hari itu semakin dekat saya semakin malas.

Saya terlalu menyatu dengan kamar ini. Kamar oranye ini. Terlalu banyak yang terjadi di kamar ini. Belum lagi lemari kayu jati yang umurnya sama dengan saya rencananya tidak akan dibawa karena perlu 10 orang untuk mengangkutnya. Saya sedih. Saya suka lemari itu. Kokoh dan tua.

Saya sedih tapi saya tidak mau mengakuinya. Tidak di depan Mama Rita dan Bapak.

Rumah ini saksi bisu akan banyak hal

  • Beke, anjing kesayangan saya yang sudah mati 7 tahun yang lalu adalah anjing pertama di rumah ini. Kuburannya ada di halaman depan. Saya masih ingat bagaimana saya bangun di pagi hari, melihat keluar lewat jendela dan mendapati beke sedang berjemur di tangga. Lalu dia akan berlari ke kamar dan menggonggong seolah berkata “ayo mainn!!”
  • Mama Rita pernah keguguran di tahun 1991 karena terlalu tua untuk hamil.  Saya merasa aneh karena setelah 11 tahun menjadi si bungsu agak sulit menerima kenyataan bahwa sebenarnya saya punya adik walaupun usia kehamilan Mama Rita baru 2 bulan waktu itu.
  • 2 Juli 1993, di sini saya pertama kali menstruasi dan merasa kesal dan bertanya tanya kenapa perempuan harus mens?
  • Mama Rita pernah kehabisan uang karena main judi. Bapak lagi di luar kota. Saya waktu itu SMA. Tidak ada makanan di rumah. Saya punya 5000. Kami beli tahu dan masak gule tahu. Itu tahu terenak yang pernah saya makan. Lalu Mama Rita menyuruh saya untuk hujan-hujanan karena dia tahu saya suka hujan. Itu hari istimewa untuk saya.
  • Pertengkaran saya dan Mama Rita karena dia sering bermain judi. Piring, gelas, tas mahalnya, sampai pintu kamar sudah menjadi korban karena kami saling menghancurkan, menendang, dan membanting banyak barang untuk meluapkan amarah.
  • Saya suka bermain di loteng, tempat jemuran  dan bermain di atas genteng (dulu belum segendut sekarang) dengan beke, boncel, dan kancil – anjing2 saya. Bapak marah. Saya sembunyi di loteng dari sore sampai malam karena takut. Bapak datang lalu menyuruh saya turun dan kami makan martabak bersama.
  • 2 Agustus  1998, saya menggunduli kepala. Bapak tidak marah, dia hanya bilang ‘ok. Besok pagi kita belajar trigonometri lagi.’
  • Saya dan abang saya yang pertama, Henry, pernah bermusuhan selama 16 bulan untuk hal sepele. Hanya karena dia lupa menyiram kencingnya di WC dan mengotori dapur.
  • 11 April 1999, saya dibaptis dewasa dan kami merayakannya dengan doa bersama keluarga besar Tobing seBandung. Di sana saya minta maaf pada Henry. Saya menangis. Sejak saat itu, kami tidak pernah bermusuhan lagi.
  • Tahun 2000, saya mewarnai rambut saya menjadi merah. Bapak marah. Dia bilang ‘sebelum rambutmu hitam, jangan balik ke rumah ini!’. Saya tinggal di tempat tante dan keliling Jakarta-Jogja sampai  5 bulan. Saya hitamkan rambut dan kembali ke rumah. Bapak yang buka pintu dan menerima pear hijau, buah kesukaannya. Dia bilang ‘lebih cantik kau kalau rambutmu hitam’.


Banyak lagi. Tiap kali saya mengepak barang dan membongkar entah itu album foto, buku, dan buku harian-buku harian saya membuat pindah ini menjadi sangat sulit.

Terlalu banyak memori, cerita, dan drama dalam keluarga ini yang menempel dengan sempurna pada memento-memento yang saya bongkar..

Mungkin pindah di hari ulang tahun yang ke-30 bisa jadi momen yang tepat untuk saya. Untuk memulai yang baru.

Well.. 30 is the new 20, right? Mari muda kembali.

Ayo beresin, lioni :) 

Tuesday, July 20, 2010

ok. mari kita latian menyanyi malam ini. semua lagu akan saya nyanyikan dengan sepenuh hati dan demam untuk kamu. iya, kamu yg ga ada :p

oneiros.

saya selalu tertarik dengan mimpi. makanya ketika disodori komik sandman karya neil gaiman, girangnya setengah mati. saya cinta morpheus dengan segala bentuk afeksinya, kepolosannya, bahkan amarahnya yang kadang terlalu meledak.

saya suka bermimpi. kadang juga tidak.
setiap bangun pagi, saya selalu berusaha diam beberapa saat untuk mengingat semua mimpi saya. sayang kalau tidak diingat.

kalau mimpi itu menyenangkan dia seperti tambahan energi untuk saya hidup hari itu.
kalau tidak, saya cepat-cepat melupakannya karena bisa jadi hari saya menjadi buruk.
mimpi mempengaruhi mood saya.

banyak yang bilang saya terlalu percaya dengan mimpi. terlalu terbawa dalam mimpi.
dan ketika nonton Inception kemarin ada dialog yang membuat saya tersenyum dan sedikit menangis.

"bagaimana kalau mereka tidur bukan untuk bermimpi tapi untuk bangun"

oneiros. tempat saya hidup. tempat saya terbangun.
sesekali saya mengunjungi oneiros. sangat surealis, sublim, dan terkadang ceria.
tapi oneiros ada disitu.

teman saya bilang ada yg ga beres ama kepala saya karena dalam 5 menit tidur, saya bisa langsung bermimpi. tapi saya kira banyak orang yang mengalami hal sama.
dia juga bilang bahwa mungkin saya harus diperiksa karena sering mengalami dejavu dan kembali ke dunia oneiros itu.

entah.
tapi saya sudah terlanjur mencintai oneiros.




Saturday, July 17, 2010

humm satu tulisan tiap hari. hore. ok, bln pertama selesai. besok kita lanjut ke bulan kedua. YAY!

dalit, devadasi, bandhavi

Sebenarnya saya pernah posting tulisan tentang kasta di sini.

Kasta, identitas paling penting di India (dan sebenarnya di banyak negara lainnya). Kasta menandakan tingkat sosial. Yang menyedihkan jika tadi kita menyimpulkan bahwa identitas itu berubah dan dinamis, tapi tidak dengan kasta. Ia identitas tetap. FIXED.

Ada empat kasta di India : brahmin, ksatria, vaisya, dan sudra. Tapi ada kasta yang tersembunyi. Dia dianggap tidak ada karena dia tidak penting. Dalit atau kamu lebih akrab dengan istilah Paria, itu kasta kelima.

Dalit tidak bisa hidup setara dengan yang lain. Dia lebih rendah dari semua tingkatan kasta yang ada. Dia sejajar dengan kecoa yang sering kamu lempar dengan sendal, dan puntung rokok yang kamu injak.The untouchable caste, begitu mereka memberi istilah lain untuk dalit. Tidak bisa disentuh bukan karena mereka begitu agung tapi karena mereka dianggap makhluk menjijikkan.

Di bulan pertama ini saya belajar tentang identitas yang tetap, kasta. Difokuskan pada kasta kelima dan masalah lain dari kasta ini yaitu tentang Dalit, Devadasi, dan Bandhavi.

Dalit. Bulan pertama ini saya melakukan kunjungan lapangan. Kami ke Koppal, sebelah utara Bengaluru. Kami bertemu dengan banyak dalit. Saya pergi ke sebuah desa di pedalaman Koppal dan kata seorang teman yang tinggal di sana, kami terlambat sehari. Katanya baru saja kemarin ada seorang dalit yang dipaksa memakan kotoran manusia di tengah kampung ditonton banyak orang oleh tuannya yang tentu saja, Brahmin.

hum. saya beruntung saya terlambat.

Iya itu benar-benar terjadi. 24 Februari 2008. Saya ingat karena saya berada di Koppal tanggal 25 Februari 2008. Saya tidak berkata apa apa. Saya hanya diam. Bingung bagaimana menanggapinya. Karena jahat bukanlah kata yang tepat. Kejam? Tidak, ini lebih dari itu. Kata makian yang paling menjijikkan pun tidak ada yang tepat untuk menggambarkan pebuatan terkutuk itu.

Sekarang bercerita tentang Devadasi. Mereka juga dalit, perempuan dalit. Kamu sebenarnya bisa baca di sini.

Bagaimana dengan Bandhavi? Bandhavi adalah istilah yang digunakan oleh Visthar untuk anak-anak perempuan dari Devadasi. Visthar, yayasan yang berfokus pada pendidikan anak dan isu gender, memelihara sekitar 200 anak Bandhavi. Mereka mengumpulkan anak-anak perempuan Devadasi di daerah selatan India terutama di Koppal dan Kerala. Dua ratus anak perempuan Bandhavi ini tinggal di asrama dan disekolahkan oleh Visthar.

Suatu hari, para perempuan Devadasi datang untuk tidur bersama anak-anak mereka di Visthar. Mereka bisa bertemu dua kali setahun. Satu kali perempuan Devadasi yang datang ke Visthar dan kali kedua, anak-anak yang mengunjungi ibu mereka di kampung.

Visthar memang belum bisa membebaskan semua perempuan Devadasi. Sampai saat ini banyak perempuan Devadasi di daerah selatan India terjebak di kuil-kuil Hindu untuk ‘melayani’ para pendeta. Tetapi anak-anak Bandhavi punya harapan lain untuk menjalani kehidupan yang berbeda dari ibu mereka. Jauh berbeda.

Hampir sepuluh tahun, Visthar berusaha melakukan pendekatan pada perempuan Devadasi untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka.

Dua ratus anak perempuan Bandhavi bisa diselamatkan.

Mereka ada di Visthar. Di dekat saya. Saya bermain, belajar, menari, dan menyanyi bersama mereka. Dengan bahasa seadanya,  kadang hanya mata kami yang berbicara atau senyum kami yang bermain. Mereka memberi keyakinan pada diri saya dan tentunya kamu bahwa ada harapan yang baik untuk dunia ini.

Sunyi dan mungil. Kadang kamu tidak bisa merasakannya. Tapi dia ada di setiap senyum, nyanyian, dan langkah kamu untuk sebuah perubahan.

..

saya dan orang lain

(sebelum masuk ke kasta)

Ok, kita sudah bicara tentang identitas, bahwa identitas itu tidak tetap, bersifat dinamis, dan kontekstual. Bahwa identitas itu diberikan orang lain. Berbicara tentang identitas berarti berbicara tentang orang lain. Berbicara tentang perbedaan.

Mari kita berbicara tentang perbedaan. Aku, kamu, mereka, pasti berbeda. Kenapa saya perempuan karena saya bukan lelaki. Buatlah kalimat yang mengafirmasi identitas dirimu dan menegasikannya.

Sederhana saja seperti :
(afirmasi) Saya heteroseksual . (negasi) Saya bukan homoseksual
(afirmasi) Saya Kristen. (negasi) Saya bukan Islam. Bukan Hindu. Bukan Buddha
dst.

Jelas, kamu butuh orang lain untuk identitas diri kamu. Perlu ditegaskan bahwa semua orang memiliki identitas berbeda. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana kamu menanggapi perbedaan itu?

Satu contoh. Jika identitas dominan saya sebagai orang Kristen. Bagaimana saya melihat orang lain yang bukan Kristen? Jika saya perempuan, bagaimana saya melihat orang lain yang memiliki jenis kelamin berbeda? Atau jika saya heteroseksual, bagaimana saya melihat teman saya yang homoseksual?

Pilihannya ada dua. Inklusif atau eksklusif. Inklusif, saya tetap bisa berteman dengan orang yang berbeda dengan saya atau eksklusif yang berarti mereka harus keluar dari lingkungan saya dan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam lingkungan saya.

Itu terserah kamu. Tapi perlu diingatkan ketika manusia menanggapi perbedaan di sekitarnya ada 5 tahapan yang akan dilalui :
-   Awalnya kamu akan merasa ketakutan/gugup
-   Lalu kamu akan merasa bahwa kamu membutuhkan keberadaan orang lain
-   Nantinya kamu akan bersikap toleran
-   Bersimpati atau berempati
-   Dan akhirnya kamu akan menghormati yang lain

Tidak semua individu bisa melewati tahapan di atas. Sangat sulit. Sayangnya, jika dalam proses tersebut manusia mulai menganggap bahwa orang lain adalah musuh, maka identitas pun menjadi sumber dari segala konflik.

Nah, sekarang mari kita bahas tentang kasta.
(tulisan berikutnya..)

Friday, July 16, 2010

cactus tea.. humm..

(id)entitas

Beberapa tulisan menyangkut topik ini pernah saya posting di sini ketika saya di India. Tulisan kali ini lebih pada ringkasan apa saja yang saya pelajari di sana.

Selama satu bulan, tiap hari kami belajar mengenali diri sendiri dan orang lain. Mulai dari yang paling dasar seperti warna kulit, jenis kelamin, warna rambut, apapun yang tangible. Sedangkan identitas yang intangible itu seperti pekerjaan, agama, status single, menikah, dll. Banyak. 

Sebegitu mudahnya kita mengidentifikasi orang, apakah dia kurus atau gendut, berambut lurus atau keriting, berjanggut atau tidak, dan banyak lagi. Proses yang kamu lakukan ketika mengidentifikasi ini adalah profiling. Lioni itu perempuan, gendut, seksi (maunya), hidungnya pesek, pahanya sebesar ikan paus, cantik (haha!) dan ternyata lioni adalah seorang batak bukan india seperti sangkaan banyak orang, dst.

Selain profiling ada istilah lain seperti stereotyping. Tau lah apa itu artinya. Kalau lioni itu orang batak berarti lioni galak, suaranya besar dan lantang, suka main judi. Atau si Sunda berarti dia matre. Si Padang berarti pelit dan banyak hal. Stereotyping. Ga apa apa sih. Barebas. Tapi nanti dulu. Kita bahas yang lain.

Identitas bersifat dinamis. Tidak pernah tetap. Itu seperti judul situs ini.. all is flux, nothing stays still. Begitu juga dengan identitas kamu. Kulitmu hitam? Pergilah ke Afrika, kulit kamu akan menjadi putih di antara orang-orang itu. Kulitmu putih? Ah, pergilah ke Korea, apa masih berani bilang kulit kamu putih? Berubah menjadikan identitas itu sangat dinamis.

Identitas menjadi sangat penting. Tanpa identitas, apa jadinya diri kamu? Kosong.  Identitas membuat kamu menjadi berbeda dan unik. Tapi yang paling penting ketika membicarakan identitas adalah esksitensi orang di luar kamu.

Ok. Saya ajak kamu untuk kenalan dengan kakek tua yang keras kepala bernama Herakleitos. Dia filsuf favorit saya. Dia bilang, proses menjadinya sesuatu karena ada yang lain di luar sesuatu itu. Bayangkan kalau kamu sendirian. Siapa yang akan memberikan kamu identitas? Ketika kamu sendiri, benar-benar sendiri, tidak ada siapapun, dari mana kamu tahu kalau kamu itu perempuan/lelaki, berkulit hitam/putih dll. Orang lain memberikan identitas pada kamu dan begitu juga sebaliknya. Manis bukan?

Sudah mengerti. Nah. Dari identitas banyak hal yang dibicarakan selama saya di School of Peace. Salah satu identitas yang menjadi topik pembicaraan hangat berabad-abad lamanya. Identitas yang menjadi ciri khas India dan orang Hindu. Identitas yang menyebabkan jutaan korban mati sia-sia.

Ya. Kasta.

Itu akan jadi tulisan saya selanjutnya..

mau berusaha 1 tulisan setiap hari!! yeah!

untuk melayang-layang tidak perlu narkoba ya, bert. jatuh cinta saja :)

kenapa saya dulu bisa jatuh cinta ama seorang romo ya? hahahaha.. betapa bodoh.

Thursday, July 15, 2010

School of Peace

Itu nama short course yang saya ikuti di Bengaluru dari bulan Februari hingga Mei 2008. Pesertanya dari 7 negara di Asia Selatan dan Tenggara: Nepal, Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar, Hong Kong, dan Indonesia. Harusnya ada peserta dari Filipina tapi karena ada masalah visa, mereka tidak jadi datang. Jumlah seluruh peserta ada 17 orang karena dari masing-masing negara bisa mengirimkan 1 atau bahkan 5 peserta sekaligus.

Selama tiga bulan lebih, kami belajar bersama. Seperti nama programnya ‘school’, maka kami pun benar-benar sekolah. Dari Senin hingga Jumat dari pukul 09.00 – 16.00. Kadang kalau ada kelas yang menarik, kami baru selesai pukul 17.00 atau 18.00. Sabtu dan Minggu kami akan berjalan-jalan ke pusat kota Bengaluru atau mencuci baju, berolahraga, membaca buku, bermain bersama anak-anak Bandhavi (akan diceritakan nanti), masak, dan tidur. Setelah tiga minggu bersekolah, selama seminggu kami akan melakukan field trip. Field trip ini sama sekali bukan rekreasi. Kami harus terus belajar dan berdiskusi karena setiap bulan kami harus menulis laporan tentang apa yang didapatkan selama sebulan belajar tentang topik-topik tersebut.

Tiga bulan berarti tiga topik besar yang akan kami bahas di sekolah ini. Bulan pertama kami membahas masalah Identitas. Bulan kedua kami akan membahas Konflik, dan di bulan terakhir ini yang paling sulit tapi menarik, Transformasi.

Oiya pasti bertanya-tanya, kenapa ‘peace’? Terus terang selama tiga bulan belajar bersama, kami tidak pernah membahas secara mendalam tentang ‘peace’. Ya, hampir tiap pagi, sebelum memulai pelajaran, kami akan menyanyi lagu tentang ‘peace’ dari berbagai negara. Kami juga membahas tentang konflik yang tentu saja berlawanan dengan ‘peace’.

Tapi apa artinya ‘peace’ jika tanpa konflik? Seperti diutarakan oleh Herakleitos bahwa suatu hal menjadi karena adanya perlawanan yang mempertegas eksistensi sesuatu. Proses menjadi ‘siang’ karena adanya malam. Proses adanya musim dingin karena adanya musim panas dan seterusnya.

Ah kembali lagi ke cerita saya di Bengaluru. ‘Peace’ sendiri akhirnya kami pelajari dan pahami sebagai proses bukan tujuan. ‘Peace’ merupakan cara supaya kami bisa hidup bersama, melampaui konflik yang kami hadapi tiap-tiap harinya. Tanpa ‘peace’ kami tidak mungkin bisa hidup bersama, memahami perbedaan, dan tentunya memaklumi kebiasaan masing-masing,


Nah, jadi itu School of Peace. Kami membahas banyak hal di sini. Tiap harinya ada saja yang baru yang bisa kami diskusikan bahkan berdebat panjang dan serius. Disela-sela sekolah banyak sekali pesta, festival, dan acara menyenangkan lain yang kami lakukan. Kami pernah melakukan aksi diam bersama Women In Black di pusat kota Bengaluru untuk bersimpati pada korban konflik antar agama yang terjadi di Orissa (negara bagian sebelah timur India). Lalu festival Hari Perempuan Sedunia. Kami menari dan bermain musik sehari penuh dan melakukan ritual penghormatan pada bumi, masak makanan khas negara masing-masing, dan tentunya Festival of JustPeace di akhir program ini.

Akan saya jelaskan tema-tema utama dalam sekolah ini di tulisan berikutnya atau saya akan bercerita tentang teman-teman saya. Tunggu saja.. 

Bengaluru, hari kedua

Saya terbangun di Bengaluru. Pagi yang aneh menemukan kalau itu bukan kamar saya dan rasanya seperti mimpi bisa berada di negara lain. Sunita sudah bangun dan memberesi tempat tidurnya ketika saya membuka mata. Ia tersenyum.

“Good morning!” sapanya sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.

“Morning!” balas saya setengah malas. Lalu saya menyeret tubuh saya untuk bangun. Ketika sudah sadar sepenuhnya, tiba-tiba saya menjadi semangat mengingat “hey ayolah ini pertama kali kamu berada di luar Indonesia. Coba rasakan apa bedanya!”

Saya beranjak bangun dan cuci muka. Lalu saya tanya pada Sunita apa yang biasanya dilakukan orang-orang di pagi hari. Sunita lalu mengajak saya untuk melakukan yoga. Ah, ini akan menjadi pengalaman yoga pertama untuk saya.

Kami pergi ke lantai tiga dan di sana sudah ada seorang lelaki menunggu Sunita, namanya Bibek dan ia dari Nepal juga. Lantai tiga ini semacam aula. Dari sini kita bisa melihat sekeliling Visthar yang didominasi padang rumput dan beberapa rumah penduduk. Beberapa saat saya tidak menyimak gerakan-gerakan yoga yang mereka lakukan karena sibuk merasakan eksistensi saya di negara lain.

Aneh. Saya mengharapkan ada pengalaman yang sama sekali berbeda ketika berada di negara lain. Ah, rumput yang ada di India sama saja, pohon kelapanya pun tidak berbeda dengan di Indonesia. Tapi sebentar, sayup-sayup saya mendengar suara sitar dan tabla. Jauh sekali. Entah dari mana, namun telinga saya mampu mendengarnya. Tidak salah lagi,  ini India. Lalu dari jauh terdengar klakson mobil-mobil India yang sangat khas. Bunyinya seperti terompet dan sangat ribut. Seperti suara klakson angkot yang dimodifikasi oleh supirnya untuk membuat ribut di jalan raya. Tolelolelolelolet. Ya semacam itu suaranya. Suara ini yang nantinya menjadi memento bagi diri saya. Jika mendengar suara yang mirip klakson ini, angan saya langsung pergi ke Bengaluru.

Tanpa sadar, Sunita dan Bibek memerhatikan saya yang sedang sibuk dengan pikiran saya sendiri. Saya menjadi tidak enak. Lalu kami kembali melakukan gerakan yoga yang lain. Terkadang mereka berdua masih kagum dan aneh melihat saya. Entah kenapa. Saya pun berusaha mengikuti yoga yang mereka lakukan. Kadang mereka tertawa melihat gerakan saya. Ya ya, ini yoga pertama saya. Jadi harap dimaklumi.

Yoga pertama pun selesai. Saya langsung menemui peserta lain. Oiya. Saya belum cerita mengapa saya sampai berada di Bengaluru. Lebih baik saya lanjutkan nanti saja ya..

Wednesday, July 14, 2010

Bengaluru, hari pertama

Sudah dua kali saya ke India, well, tepatnya ke Bengaluru. Bukannya mengunjungi kota lain seperti Hyderabad atau Goa atau Chennai (d/h Madras) tapi saya kembali ke Bengaluru.

Bengaluru atau dalam bahasa Inggris, Bangalore, menjadi kota pertama yang saya kunjungi di India. Saya ingat, tanggal 7 Februari 2008 pukul 23.30 waktu India, saya melihat papan besar bertuliskan Welcome to Bangalore International Airport. Saya tersenyum. Ini pertama kali saya ke luar negeri dan Bangalore menjadi kota pertama yang saya kunjungi di luar Indonesia (transit di Bangkok ga diitung ya) .

Malam itu, saya dijemput oleh Partiban, supir yang bekerja di Visthar. Dia memegang papan nama bertuliskan Lioni Beatrik from Indonesia. Saya langsung menghampirinya, tersenyum “Hi, I’m Lioni!”

Partiban merasa senang karena akhirnya saya datang. Ia langsung mengantarkan saya ke Visthar, tempat saya akan menginap. Sepanjang jalan saya melihat kota Bengaluru. Gelap. Partiban menjelaskan kalau di Bengaluru, jam 6 sore listrik akan dimatikan dari pusat. Sebagian besar penduduk Bengaluru yang memiliki cukup uang untuk membeli genset dan bensin tentu tidak memiliki masalah. Tapi Bengaluru memiliki 70 pemukiman kumuh yang ditempati oleh orang-orang Dalit dan tidak memiliki genset. Jadi mereka akan menghabiskan malam tanpa penerangan listrik.

Sepanjang jalan saya mengajak Partiban mengobrol dan meminta ijin padanya untuk merokok. Dia merasa heran melihat perempuan merokok ketika itu. Dari wajahnya terlihat kalau sebenarnya ia tidak suka saya merokok. Tapi ketika itu sudah tengah malam dan tidak ada yang melihat ada perempuan merokok di dalam mobilnya, ia pun membolehkan saya untuk menghisap rokok yang saya bawa dari Indonesia, star mild menthol.

Ia bilang pada saya “You can not smoke in Vistar, Mr. David will be angry to see you smoking! You have to walk 5 kilometer from Visthar then you free to smoke!” Saya tau resiko tersebut dan tidak merasa keberatan.

Akhirnya setelah 1 jam, kami tiba di Visthar. Visthar itu semacam tempat retreat atau ashram yang letaknya di tengah hutan jauh dari pusat kota. Saya merasa takut ketika turun dari mobil karena ya, seperti yang kalian tahu, di India pasti banyak ular. Visthar ini dikelilingi oleh semak belukar, pohon kelapa, mangga, nangka, dan sawo. Nah, pantas untuk merasa takut kan?


Setelah berjalan sejauh 200 meter, akhirnya saya sampai di sebuah gedung 3 lantai. Partiban membawa saya ke kamar no. 10. Ia membangunkan teman sekamar saya yang sudah tertidur, Sunita Thapa, dia orang Nepal. Ia bingung melihat saya. Mungkin untuk ukuran orang Indonesia saya terlihat sangat besar.
“Hello, my name is Lioni!”


Sunita masih terlihat antara bingung dan kagum melihat saya. Mengingat tubuhnya sangat kecil dan kurus jauh sekali dibandingkan dengan ukuran tubuh saya yang besar.
Setelah merasa semuanya lancar, Partiban pun pamit. “Remember Lioni.. you can not smoke here!” Saya hanya tertawa “Goodnight and thanks!”
(bersambung..) 

Mama Rita

Nama lengkapnya de’Rhyta Merry. Kadang bapak saya mengejek dirinya “derita”. Bapak bilang ia selalu membawa penderitaan. Mungkin dia hanya bercanda tapi menjelang remaja saya merasa mama selalu membawa penderitaan untuk saya dan keluarga.

Kami tinggal di Empaci sekitar 4 jam dari Sintang, kota kecil yang jauhnya 8 jam dari Pontianak. Saya berumur 5 tahun ketika bapak bekerja di Empaci. Bapak bekerja di perkebunan karet. Kalau bapak sedang mengawasi penyadapan karet, saya dan kedua abang saya akan bermain ke rawa yang ada di belakang rumah dinas. Kami menaiki perahu dan menyusuri rawa. Sore itu kami ditemani oleh sekawanan orang utan yang sedang bermain di pepohonan. Saya tidak akan pernah lupa hari itu.

Dulu, mama selalu membantu orang Dayak di Kalimantan Barat. Mama membawa mereka menonton TV bersama karena di daerah pedalaman yang mereka tinggali, tidak ada TV sama sekali. Setiap Selasa, mereka akan datang ke kantor bapak dan menonton TV tapi mama tidak tahan karena badan mereka sangat bau. Orang Dayak di perkebunan memang tidak pernah mandi. Lalu mama menganjurkan mereka untuk mandi dengan sabun supaya wangi. Minggu depannya, ya, mereka memang datang kembali dengan berpakaian rapih dan bersih tetapi mereka menggunakan minyak sinyongnyong yang baunya tiga kali lebih hebat dari minyak angin cap kampak, mama hanya tersenyum pasrah.

Cerita lain lagi, mama pernah memberikan makanan kepada seorang kakek yang letak rumahnya jauh di pedalaman. Jarak satu rumah ke rumah lainnya kira-kira 2 kilometer jauhnya. Kakek ini hidup sebatang kara, mama memberikan makanan lebih. Jika biasanya satu keluarga menerima satu bungkus nasi, kakek mendapatkan dua. Setelah membagikan seluruh makanan, mama kembali ke rumah dinas. Menjelang malam, kakek ini ternyata mengejar mama dan mengembalikan satu bungkus nasi dengan alasan “tetangga saya mendapatkan satu kenapa ibu memberi saya dua bungkus?” Mama hanya terdiam dan bingung. Kakek itu berlari sejauh 20 kilometer dari rumahnya hanya untuk mengembalikan satu bungkus nasi.

Mama pahlawan bagi saya. Jika bapak saya bekerja di perkebunan, mama akan bekerja bersama ibu-ibu dharma wanita untuk membantu penduduk lokal. Mama akan pergi ke pelosok untuk mensosialisasikan kesehatan ibu-anak, KB, dan banyak lagi. Suatu hari saya pernah dibawa ke puskesmas dan melihat bagaimana proses melahirkan. Saya mual ketika melihat kepala bayi yang siap keluar dari mulut rahim. Sejak hari itu sampai menginjak remaja, saya tidak mau hamil.

Ketika bapak dan mama memutuskan untuk pindah ke Jawa Barat, saya tidak senang dengan keputusan itu. Saya menangis. Saya tidak mau pindah ke Bandung. Mama mulai berubah. Mama sering main judi. Dan saya tidak bisa lupa ketika dia mulai bermain kartu dan berbohong kalau itu hanya main-main saja. Saya pernah menendang perutnya sampai ia pingsan karena ia bermain judi. Saya kesal. Saya robek semua uang yang ada di meja. Saya benci mama.

Mama bukan pahlawan lagi bagi saya. 

dipecut ama nyai supaya nulis lagi.. baiklah nyai.. sembah sujud nyai..

harga cabe naik ya? yah, jgn2 nanti hrs bayar sambal klo makan di ampera, laksana dll.. trs warung padang gmn??? yaaaaaaaaahh.. *gabisamakantanpacabe*

nulis tentang apa ya?

rasanya aneh kembali menulis di sini. 9 bulan tidak menulis di rumah bordil ini karena lebih banyak nyampah di facebook dan twitter. menyesal.

sampai hari ini saya punya 10 jurnal harian yang diisi dari sma dan berhenti ketika internet mulai marak di bandung. ada blog tapi sepertinya banyak yang cerita yang terlewat.

akhir-akhir ini saya sering lupa. mungkin karena makin menua dan banyak pikiran sehingga ya sebagian besar memang harus dibuang (andaikan di kepala ini ada recycle bin). makin sesak isi kepala ini.

gajah tidak pernah lupa. ya. tapi gajah yang ini benar-benar sudah jompo. makin banyak yang lupa dan terlewat begitu saja. sedih.
maka itu saya mau nulis lagi. pelan pelan saja karena sudah tua.

tulis apa yang saya ingat ah selama 9 bulan ke belakang ini.. coba ya..

oct 2009 - kerja di salah satu project undp
nov 2009 - ga ada yg seru
dec 2009 - suka ama cowo tapi .. humm.. ehm.. la la la la.. humm.. yeah riiighhtt!
jan 2010 - akhirnya memutuskan untuk melangkah lagi :)
jan 2010 - memutuskan untuk bikin kappaletta - singing telegram
feb 2010 - kappaletta beraksi dan sambutannya ok
march 2010 - kappaletta menyanyi di depan kuburan seorang ayah & seorg teman :)
march 2010 - dita, kembali ke indonesia setelah 1,5 tahun kuliah di belanda
march 2010 - kappaletta muncul di jakpost
april 2010 - project undp selesai dan liburan ke tidung
may 2010 - memutuskan untuk keliling asia tenggara dengan dita
may 2010 - kappaletta muncul di jakglobe
june 2010 - nganggur donk.. kembali ke kappaletta
june 2010 - kappaletta muncul di gogirl
july 2010 - ehm..

tuh kan cuma segitu yg saya ingat. maklum sudah tua. nah kan saking tua-nya jam segini pun saya mengantuk.
kita lanjut besok ya.

ts23, 01:45