Thursday, July 15, 2010

School of Peace

Itu nama short course yang saya ikuti di Bengaluru dari bulan Februari hingga Mei 2008. Pesertanya dari 7 negara di Asia Selatan dan Tenggara: Nepal, Kamboja, Laos, Thailand, Myanmar, Hong Kong, dan Indonesia. Harusnya ada peserta dari Filipina tapi karena ada masalah visa, mereka tidak jadi datang. Jumlah seluruh peserta ada 17 orang karena dari masing-masing negara bisa mengirimkan 1 atau bahkan 5 peserta sekaligus.

Selama tiga bulan lebih, kami belajar bersama. Seperti nama programnya ‘school’, maka kami pun benar-benar sekolah. Dari Senin hingga Jumat dari pukul 09.00 – 16.00. Kadang kalau ada kelas yang menarik, kami baru selesai pukul 17.00 atau 18.00. Sabtu dan Minggu kami akan berjalan-jalan ke pusat kota Bengaluru atau mencuci baju, berolahraga, membaca buku, bermain bersama anak-anak Bandhavi (akan diceritakan nanti), masak, dan tidur. Setelah tiga minggu bersekolah, selama seminggu kami akan melakukan field trip. Field trip ini sama sekali bukan rekreasi. Kami harus terus belajar dan berdiskusi karena setiap bulan kami harus menulis laporan tentang apa yang didapatkan selama sebulan belajar tentang topik-topik tersebut.

Tiga bulan berarti tiga topik besar yang akan kami bahas di sekolah ini. Bulan pertama kami membahas masalah Identitas. Bulan kedua kami akan membahas Konflik, dan di bulan terakhir ini yang paling sulit tapi menarik, Transformasi.

Oiya pasti bertanya-tanya, kenapa ‘peace’? Terus terang selama tiga bulan belajar bersama, kami tidak pernah membahas secara mendalam tentang ‘peace’. Ya, hampir tiap pagi, sebelum memulai pelajaran, kami akan menyanyi lagu tentang ‘peace’ dari berbagai negara. Kami juga membahas tentang konflik yang tentu saja berlawanan dengan ‘peace’.

Tapi apa artinya ‘peace’ jika tanpa konflik? Seperti diutarakan oleh Herakleitos bahwa suatu hal menjadi karena adanya perlawanan yang mempertegas eksistensi sesuatu. Proses menjadi ‘siang’ karena adanya malam. Proses adanya musim dingin karena adanya musim panas dan seterusnya.

Ah kembali lagi ke cerita saya di Bengaluru. ‘Peace’ sendiri akhirnya kami pelajari dan pahami sebagai proses bukan tujuan. ‘Peace’ merupakan cara supaya kami bisa hidup bersama, melampaui konflik yang kami hadapi tiap-tiap harinya. Tanpa ‘peace’ kami tidak mungkin bisa hidup bersama, memahami perbedaan, dan tentunya memaklumi kebiasaan masing-masing,


Nah, jadi itu School of Peace. Kami membahas banyak hal di sini. Tiap harinya ada saja yang baru yang bisa kami diskusikan bahkan berdebat panjang dan serius. Disela-sela sekolah banyak sekali pesta, festival, dan acara menyenangkan lain yang kami lakukan. Kami pernah melakukan aksi diam bersama Women In Black di pusat kota Bengaluru untuk bersimpati pada korban konflik antar agama yang terjadi di Orissa (negara bagian sebelah timur India). Lalu festival Hari Perempuan Sedunia. Kami menari dan bermain musik sehari penuh dan melakukan ritual penghormatan pada bumi, masak makanan khas negara masing-masing, dan tentunya Festival of JustPeace di akhir program ini.

Akan saya jelaskan tema-tema utama dalam sekolah ini di tulisan berikutnya atau saya akan bercerita tentang teman-teman saya. Tunggu saja.. 

4 comments:

rieska wulandari said...

Ah, senang sekali membacanya :)

Lioni Beatrix said...

lioni juga senang bisa buat senang :)

isna umaya said...

Nampaknya ramai sekali ya... *membayangkan warna warni

niken a said...

pengen ikutan...