(sebelum masuk ke kasta)
Ok, kita sudah bicara tentang identitas, bahwa identitas itu tidak tetap, bersifat dinamis, dan kontekstual. Bahwa identitas itu diberikan orang lain. Berbicara tentang identitas berarti berbicara tentang orang lain. Berbicara tentang perbedaan.
Mari kita berbicara tentang perbedaan. Aku, kamu, mereka, pasti berbeda. Kenapa saya perempuan karena saya bukan lelaki. Buatlah kalimat yang mengafirmasi identitas dirimu dan menegasikannya.
Sederhana saja seperti :
(afirmasi) Saya heteroseksual . (negasi) Saya bukan homoseksual
(afirmasi) Saya Kristen. (negasi) Saya bukan Islam. Bukan Hindu. Bukan Buddha
dst.
Jelas, kamu butuh orang lain untuk identitas diri kamu. Perlu ditegaskan bahwa semua orang memiliki identitas berbeda. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana kamu menanggapi perbedaan itu?
Satu contoh. Jika identitas dominan saya sebagai orang Kristen. Bagaimana saya melihat orang lain yang bukan Kristen? Jika saya perempuan, bagaimana saya melihat orang lain yang memiliki jenis kelamin berbeda? Atau jika saya heteroseksual, bagaimana saya melihat teman saya yang homoseksual?
Pilihannya ada dua. Inklusif atau eksklusif. Inklusif, saya tetap bisa berteman dengan orang yang berbeda dengan saya atau eksklusif yang berarti mereka harus keluar dari lingkungan saya dan tidak membiarkan mereka masuk ke dalam lingkungan saya.
Itu terserah kamu. Tapi perlu diingatkan ketika manusia menanggapi perbedaan di sekitarnya ada 5 tahapan yang akan dilalui :
- Awalnya kamu akan merasa ketakutan/gugup
- Lalu kamu akan merasa bahwa kamu membutuhkan keberadaan orang lain
- Nantinya kamu akan bersikap toleran
- Bersimpati atau berempati
- Dan akhirnya kamu akan menghormati yang lain
Tidak semua individu bisa melewati tahapan di atas. Sangat sulit. Sayangnya, jika dalam proses tersebut manusia mulai menganggap bahwa orang lain adalah musuh, maka identitas pun menjadi sumber dari segala konflik.
Nah, sekarang mari kita bahas tentang kasta.
(tulisan berikutnya..)
No comments:
Post a Comment