Sunday, March 30, 2008

GUJARAT TRIP




dari ahmedabad lalu ke baroda lalu ke dang.. aku sampai merasa bahwa kota ini tidak mungkin ada di peta saking jauhnya! belum lagi aku kesalllll krn pilot2 di india butut.. (eh di indonesia juga sih!) hehehe.. aku sampai deh-degan krn pesawatnya terus goyang kayak orang india klo udah denger musik.. hahaha

Mari berkunjung ke rumah Om Mohandas Karamchand Gandhi




ya udah jauh jauh ke ahmedabad masa ga ke Sabarmathi Ashram-nya om Gandhi sih.. hehehe

Friday, March 28, 2008

Mahatma Gandhi dan Aung San Suu Kyi

         Ini cerita dua orang besar yang berjuang untuk perdamaian dunia. Dunia memandang dua orang ini benar-benar memperjuangkan suara rakyat.
         Perbedaan dua orang ini tentu saja, Gandhi itu dari India, seorang lelaki, dan sudah meninggal. Sedangkan Aung San Suu Kyi dari Burma, seorang perempuan, dan masih hidup. 
         Persamaannya ya itu tadi, dua orang ini sama-sama berjuang untuk rakyat. Melawan kekerasan yang dilakukan oleh kolonialisme dan militerisme. Secara internasional tentu saja perjuangan mereka sangat dikagumi. Buktinya Suu Kyi pernah menerima nobel perdamaian di akhir 1980-an.
        Tapi ada cerita menarik tentang dua orang ini yang saya temukan ketika berinteraksi dengan orang India dan orang Burma selama mengikuti School Of Peace di Bangalore-India.


        Ternyata banyak orang di India yang tidak menyukai Gandhi. Yah, kalo kaum Hindu fundamentalis tidak usah dibicarakan. Mereka hanya sekumpulan orang-orang berotak kecil yang "membunuh" Gandhi. Tapi ternyata kaum paria atau panchamas atau dalit lebih-lebih tidak menyukai Gandhi.

"Gandhi itu tidak memperjuangkan suara kami sebagai kaum tertindas. Dia hanya memiliki ide agar kasta tinggi menyamakan derajatnya dengan kasta rendah. Menyadarkan kasta tinggi bahwa kita ini semuanya manusia. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi jika sistem kastanya tidak dihancurkan!"

       Gandhi datang dari kasta ketiga (Vaisya). Di satu sisi bisa dikatakan Gandhi berada di titik aman tetapi disisi lain ini berarti Gandhi masih "takut" dengan kaum Brahmin dan Ksatria.

                  Mari kita membahas Aung San Suu Kyi. Ia seorang perempuan bertubuh kecil dengan suara yang tidak lantang tapi sangat ditakuti oleh militer Burma. Ketika ia berbicara, seluruh rakyat bahkan seorang prajurit rendah akan ikut mendengar perkataannya, karena suara perempuan ini adalah suara rakyat.

        Seorang teman dari Burma bernama Nang dengan tegas mengatakan pada saya "SAYA TIDAK SUKA SUU KYI!"

Nang adalah pekerja sosial di sebuah desa di Shan State, sebelah utara Burma.

"Suu Kyi pernah berkata bahwa kalau ia terpilih menjadi presiden dia tidak akan memperjuangkan hak-hak kelompok etnis (di Burma, ada 7 negara bagian yang ditempati 7 kelompok etnis berbeda). Bagaimanapun ia seorang Burmese. Saya benci Burmese!"

         Nang seorang Shan. Kelompok Militer berasal dari Burmese. Militer memutuskan bahwa nama Burma diganti dengan nama Myanmar. Sampai sekarang Nang tidak pernah menyebut negaranya Myanmar. Dia selalu memperkenalkan diri "Saya Nang, dari Burma!" karena Myanmar merupakan nama yang diberikan oleh militer. Tapi tetap saja Nang tidak suka orang-orang dari etnis Bumese. Dan Suu Kyi adalah seorang Burmese.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi jika Suu Kyi memenangkan pemilu taun ini (jika ia diperbolehkan untuk dicalonkan sebagai kandidat). Sepertinya nasib kami akan lebih buruk jika Suu Kyi menjadi presiden Burma. Bagaimanapun ia orang Burmese, tidak ada bedanya dengan militer!"

           Secara internasional kedua orang ini memang diakui perjuangannya tapi bagi rakyatnya sendiri kadang mereka yang lebih tahu tentang orang-orang besar yang selalu mendapat pujian atau decak kagum dari orang-orang dari penjuru dunia.

Ah bagaimanapun mereka berdua cuma manusia biasa. (HAHAHAHA.. NGELES LO LI!)

                                                                                           -gujarat, 20 maret 2008-

DASAR GUJARAT ANEH..

 

 

KOMENTAR ORANG-ORANG GUJARAT :

"INI ADEM LHO.. UNTUNG KAMU DATANG DI BULAN INI.. 39 DERAJAT ITU BERARTI DI SINI MASIH MUSIM DINGIN.. COBA KAMU DATANG DI BULAN MEI.. ITU NAMANYA PANAS.. KIRA-KIRA 47 DERAJAT CELCIUS!"

dan aku hanya bisa menghela nafas dan tersenyum pasrah..

GIMANA KATE LO AJE DEHHH!!!

Thursday, March 27, 2008

GUJARAT KOPLOK

ARGHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!

 

 

 

 

 

 

 

-to be continued-

Monday, March 17, 2008

saya mulai bosan di sini (anjeeenk!)

aduh.. bosannya.. mana lagi PMS pula. maunya marah terus! apalagi kalo temen-temen dari negara lain cerita tentang situasi negaranya yang ga penting! ya maap ya.. tapi saya bosan di sini dengan pembahasan yang itu itu melulu.

tentang kapitalisme, sosialisme, globalisasi, konsumerisme.. AYOLAH!!! cape bahasnya.. orang di sisi dunia lain udah lari kemana, eh di sini masih ngerangkak. ARGH!! MO MARAH!

BOSAAAAAAAANNNNNNNN!!

BELUM LAGI ADA PESERTA DARI XXXXXXXX (sensor) YANG NGOMONG GINI : "LIONI LO CINTA BANGET YA AMA NEGARA LO.. SOALNYA LO BANYAK TAU TENTANG INDONESIA!"

MAXUD LO???????

DASAR BANGSA TERKUTUKKKK!!!!!! JADI LO GA TAU APA APA TENTANG NEGARA LO? HUH!!!

GUOBLOGGGGGGG!!!!!!

DAN KEMAREN DIA BILANG GINI SAMBIL TERTAWA : "HAHAHA.. LO KAYAK ORANG HAMIL KALO PAKE BAJU ITU??" (gue lagi pake rok panjang dijadiin daster).

LALU GUE BALES : "TANPA BAJU INI GUE JUGA UDAH KAYAK ORANG HAMIL, BABI!" (ketika ngomong babi gue pake bahasa indonesia)

HARI GINI MASIIIIHHH NGEJEK ORANG GENDUTTTT??!!!!!

KATANYA LO AKTIVIS PEREMPUAN?? KATANYA LO KERJA SEBAGAI KONSULTAN BUAT PEKERJA SEKS DI NEGARA LO??
TAPI MASALAH BEGINIAN AJA MASIH BELUM SELESAI DI KEPALA LO??

NGAPAIN LO KERJA DAN NGAKU NGAKU JADI AKTIVIS PEREMPUAN!!!

ANJING!!!

*saat-saat begini kadang gue ga ngerti dengan aktivis perempuan.

hum...besok ke gujarat..

tolonglah..mudah-mudahan ada hal baru yang gue dapat selain foto-foto keren!!!!!

LIONI - SARI - INDIA




foto foto lioni pake sari baru, poto-poto lioni bersama teman-teman.

Thursday, March 13, 2008

UNHCR..UNHCR..

hihihi.. gue kemaren ketemu orang UNHCR terus ngobrol tentang masalah Srilanka.. lalu gue serang orang itu..

"EH KAMU TAU GA KALO UN ITU KEPANJANGAN DARI UNITED NOTHING.."

hahahaha.. dia marah donk..

terus gue serang lagi..

"UN itu bisanya bikin masalah seperti di Timor Leste atau di Nepal. Kita ga butuh kamu ehh malah datang ke Indonesia sok2 mau memecahkan masalah. bareng Australi lagi. UN teh suka maen datang tanpa permisi bikin panik orang seperti di Nepal. Kamu teh mau apa sih sebenernya? Udah tau duit yang kamu pake teh dari money laundry kadang dari world bank..Butut tau! udah ga usah sok tau ama negara saya deh..

eh dia marah besarr dan klo ketemu di ruang makan, pasti buang muka ama gue..

ah udah ah.. baru digituin udah pundung.. YEEE!

kerja di UN ah.. duitnya gede.. hihihi

Monday, March 10, 2008

perayaan hari perempuan sedunia di visthar




merayakan hari perempuan sedunia di visthar dengan anak-anak bandhavi. memberkati sekeliling visthar dengan tarian. lalu kami melakukan sedikit ritual di dalam sumur. menyenangkan. menari seharian!!!

aksi di depan mahatma gandhi park




INTERNATIONAL WOMEN's DAY. 8 MARET 2008

teman-teman di koppal




kemaren belum sempet di upload. ini orang-orang yang membantu dalam field trip gue selama gue di koppal.

Sunday, March 9, 2008

Puneeth Rajkumar (FELIX!! mirip banget ni cowo ama lo!)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kenalkan ini Puneeth Rajkumar. Dia bintang pelm tapi khusus untuk kawasan India Selatan. Waktu kemaren gue sempet aja gitu lho nonton film India, judulnya Bindaas. Lucu deh nonton di bioskop di sini. Penonton dilarang untuk bawa makanan dan minuman tapi di tengah film tiba-tiba ada tulisan COFFEE TIME. HAHAHAHHAHA.. Selama 10 menit penonton boleh keluar dan jajan. Setelah itu film lanjut lagi deh.. hihihihi.

Nah gue nonton film ini tanpa english subtitle donk.. tapi ya namanya juga film india pasti ceritanya begitu begitu juga. Ada polisinya, ada penjahatnya, ada jagoannya, dan ada cewenya.

Selama nonton in gue ketawa teruss.. gimana ngga.. SI PUNEETH ini dari suara dan cara ngomongnya SAMAAAAAAAAAAAA banget ama Si FELIX.. HAHAHAHHA

dasar india.. kekkekeke..

Friday, March 7, 2008

HARI PEREMPUAN SEDUNIA

INTERNATIONAL WOMEN’S DAY, MARCH 8, 2008

School of Peace (SOP) 2008 in Solidarity with Women Globally    

      The School of Peace (SOP) is an idea born out of the Interfaith Cooperation Forum founded in 2003.  The school was first held in 2006 on the Visthar campus in Bangalore, India with the purpose to encourage engagement between peoples of different faiths in Asia. This is done through bringing together young adults from conflict areas of Asia who share different faith perspectives and who are involved in work with marginalized communities. Through learning and interacting with one another, the participants are able to learn about other faiths and the importance of living with one another in peace.  Participants are further encouraged to develop effective strategies for interfaith justpeace advocacy and action for their country. 

      On the occasion of this International Women’s Day 2008, SOP participants from seven countries in Asia want to express their concerns about the following critical issues facing women:

Indonesia

Many of the present government regulations do not benefit women. These regulations always place the fault on women’s bodies. Our parliament must reconsider the pornography draft bill and all the sections that criminalize women’s bodies.   

Thailand

In the Southern Border Provinces of Thailand, the number of widows is increasing because of the unrest that exists throughout the area. Many men are killed everyday leaving the women to take full responsibility for their children’s education, health, welfare and security.  

Laos

Human Trafficking increases the rate of HIV and other infectious diseases and many people are dying. Many children have become orphans already. Official institutions should give more awareness to the society about the dangers of Human Trafficking.   

Myanmar

After five decades of civil war, women and children continue to face severe suffering. Many women have suffered severely from sexual violence, trafficking, and many other forms of violence by the military junta.  Internally Displace Persons (IDPs) are especially vulnerable to these abuses. We therefore strongly urge that the State Peace and Development Council (SPDC) take full responsibility to respect women’s rights. 

Cambodia

After the collapse of the Khmer Rouge regime, the main issue facing women is that of domestic violence.  Women are oppressed because their husbands are not well-educated and many are unemployed.  Society must look at this situation seriously and work to guarantee equal rights and participation to all women.  

Nepal

Women have been seriously affected by the conflict between the government and the Maoist Party of Nepal (CPN).  Many women have become widows and some are still in painful conditions because their family members are missing.  Now they are looking for justice and so our country must be responsible for building justice within our societies. 

Hong Kong 

Cases of abuse within families have recently increased rapidly.  Mostly this problem affects the lower class and immigrants from mainland China.  Moreover, the forms of the violence have become more horrific, e.g. jumping out of a high rise building while holding ones children.  We understand that the violence should not be solely the responsibility of individuals and specific kinds of families.  These problems are caused by inequality within the social, political and economic systems, and because of gender discrimination and city planning. We strongly urge the government, police, social welfare services, medical services, and lawyers etc. to prioritize this issue and look for transformation of these unjust systems.   

      

kangen masa SMA ih!

tiba-tiba saja

di tengah perkuliahan global economy, gue kangen masa-masa SMA gue..

kayaknya dulu waktu SMA yang dipikirin cuma masalah tugas, ujian, masalah kecengan, sampai masalah hari minggu nonton konser underground di saparua atau ngga..

sekarang.. makin berat yang harus dipikirin..

makin tau banyak.. makin besar tanggung jawabnya..

hum..

Monday, March 3, 2008

KOPPAL




FIELD TRIP KE KOPPAL...
ENJOY!!!

anak anak india




Sunday, March 2, 2008

BINATANG-BINATANG DI INDIA




gue kesell ama orang-orang di sini. mau sapi keq, anjing, babi atau apapun itu dipelihara dengan semena-menaa. lo mesti tau yaa.. tiap malam gue denger lolongan anjing bersahut-sahutan.. miris banget.. kayak curhat. di sini orang-orang tuh dengan seenaknya nendang anjing, ngebuang anjing ke solokan dsb. sapi? katanya sihhhh sapi itu dewa mereka tapi nyatanya.. ya ampunn!!! ga jauh beda ama anjing. dibiarin aja liar.. terus kadang kurusssss bangett ga dikasih makan. KESALLLLLLL..

DEVADASHI

                                                       Devama dan Irama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     kalung khusus devadashi                                                             Irama

              Dewi Holigama

Deva = God

Dashi = servant

Devadashi =  servant of god

 

Selama field trip di Koppal kemarin, kami mengunjungi salah satu desa, Danapur Village. Menurut data, banyak devadashi tinggal di sini.

 

Dulunya perempuan-perempuan ini membantu para pendeta dalam ritual-ritual khusus untuk Dewi Holigamma. Membantu di sini berarti menyiapkan segala sesuatu untuk sebuah ritual dan menari di acara-acara suci lainnya. Lalu lama-kelamaan, devadashi digunakan oleh para raja-raja India untuk menghibur tamu mereka di istana. Sehingga berubahlah makna devadasi. Tadinya tarian mereka merupakan tarian suci tetapi ketika masuk ke istana, mereka menari untuk menghibur.

 

Pada masa penjajahan Inggris, perempuan-perempuan Devadashi ini malah melayani pendeta dalam hal seksual. Sehingga perempuan Devadashi yang tidak boleh memiliki suami ini mempunyai anak dari pendeta. Pendeta-pendeta ini tentunya membiayai hidup mereka dan memberikan tempat tinggal di dekat temple.

 

Penjajahan Inggris atas India pun membantu pemerintah India untuk mengeluarkan institusi yang menyatakan bahwa devadasi merupakan sistem illegal di India.

Sayangnya daerah Karnataka dimana devadasi terbanyak di India baru mengakui undang-undang ini pada tahun 1982.

 

Menarik ketika bertemu dengan devadashi secara dekat dan mengobrol dengan mereka.

Walaupun praktek Devadashi sudah dilarang secara resmi oleh pemerintah ternyata masih banyak devadashi yang menyerahkan anak perempuannya ke Holigama Temple pada umur 2-4 tahun.

 

Lalu setelah mereka berumur 14 tahun, mereka memang sudah tidak melayani pendeta tetapi paman atau saudara lelaki dari pihak ibu (ya iyalah.. ga ada bapa juga! Hehe).

Setelah beberapa bulan “dimadu” oleh paman mereka, perempuan-perempuan devadashi tinggal bersama lelaki lain.

 

Jadi intinya ga jauh beda dengan prostitusi.

Hanya di sini mereka melakukan hal ini karena lebih gampang cari uang dengan menjadi devadashi dan tentunya karena takut pada Dewi Holigama!

 

Foto di atas adalah perempuan-perempuan devadashi.

Irama menyerahkan Devama ke Holigama Temple ketika Devama berumur 4 tahun. Irama menyatakan ia terpaksa melakukan ini karena Devama anak perempuan satu-satunya dan tentunya masalah uang.

 

Devama memiliki anak perempuan tetapi ia tidak menyerahkan anak perempuannya ke Holigama temple untuk menjadi devadashi. Devama sadar kalau anak perempuannya memiliki peluang untuk hidup lebih baik daripada dirinya. Anak perempuannya, Nirama sekarang sudah menikah dengan lelaki dari caste lebih tinggi. Walaupun anaknya tidak boleh mengunjungi dirinya, Devama masih diperbolehkan mengunjungi Nirama.

 

Keadaan sudah agak berubah di sini.

 

gue setelah diberkati oleh Irama