Sunday, March 2, 2008

DEVADASHI

                                                       Devama dan Irama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     kalung khusus devadashi                                                             Irama

              Dewi Holigama

Deva = God

Dashi = servant

Devadashi =  servant of god

 

Selama field trip di Koppal kemarin, kami mengunjungi salah satu desa, Danapur Village. Menurut data, banyak devadashi tinggal di sini.

 

Dulunya perempuan-perempuan ini membantu para pendeta dalam ritual-ritual khusus untuk Dewi Holigamma. Membantu di sini berarti menyiapkan segala sesuatu untuk sebuah ritual dan menari di acara-acara suci lainnya. Lalu lama-kelamaan, devadashi digunakan oleh para raja-raja India untuk menghibur tamu mereka di istana. Sehingga berubahlah makna devadasi. Tadinya tarian mereka merupakan tarian suci tetapi ketika masuk ke istana, mereka menari untuk menghibur.

 

Pada masa penjajahan Inggris, perempuan-perempuan Devadashi ini malah melayani pendeta dalam hal seksual. Sehingga perempuan Devadashi yang tidak boleh memiliki suami ini mempunyai anak dari pendeta. Pendeta-pendeta ini tentunya membiayai hidup mereka dan memberikan tempat tinggal di dekat temple.

 

Penjajahan Inggris atas India pun membantu pemerintah India untuk mengeluarkan institusi yang menyatakan bahwa devadasi merupakan sistem illegal di India.

Sayangnya daerah Karnataka dimana devadasi terbanyak di India baru mengakui undang-undang ini pada tahun 1982.

 

Menarik ketika bertemu dengan devadashi secara dekat dan mengobrol dengan mereka.

Walaupun praktek Devadashi sudah dilarang secara resmi oleh pemerintah ternyata masih banyak devadashi yang menyerahkan anak perempuannya ke Holigama Temple pada umur 2-4 tahun.

 

Lalu setelah mereka berumur 14 tahun, mereka memang sudah tidak melayani pendeta tetapi paman atau saudara lelaki dari pihak ibu (ya iyalah.. ga ada bapa juga! Hehe).

Setelah beberapa bulan “dimadu” oleh paman mereka, perempuan-perempuan devadashi tinggal bersama lelaki lain.

 

Jadi intinya ga jauh beda dengan prostitusi.

Hanya di sini mereka melakukan hal ini karena lebih gampang cari uang dengan menjadi devadashi dan tentunya karena takut pada Dewi Holigama!

 

Foto di atas adalah perempuan-perempuan devadashi.

Irama menyerahkan Devama ke Holigama Temple ketika Devama berumur 4 tahun. Irama menyatakan ia terpaksa melakukan ini karena Devama anak perempuan satu-satunya dan tentunya masalah uang.

 

Devama memiliki anak perempuan tetapi ia tidak menyerahkan anak perempuannya ke Holigama temple untuk menjadi devadashi. Devama sadar kalau anak perempuannya memiliki peluang untuk hidup lebih baik daripada dirinya. Anak perempuannya, Nirama sekarang sudah menikah dengan lelaki dari caste lebih tinggi. Walaupun anaknya tidak boleh mengunjungi dirinya, Devama masih diperbolehkan mengunjungi Nirama.

 

Keadaan sudah agak berubah di sini.

 

gue setelah diberkati oleh Irama

11 comments:

Galih Aristo Arisudewo said...

aaaaaahhh...lucuuunyaaa...
you become one of them :D

Dita Anggraeni said...

Colorful banget yah. Lucu.

Lioni Beatrix said...

maxudnya? gue perempuan devadashi juga? hehehe.. iya juga ya.. kan nama web gue pelacur :p

Lioni Beatrix said...

koq lucu sih? hihihi

chrysant chrysant said...

ah elu tambah cantik Li....

'M ' said...

liyoni... janganlah lupa... sari 30 meter itu :))

Lioni Beatrix said...

GA ADA SARI 30 METER! GUE UDAH NGUNJUNGIN PABRIKNYA LANGSUNG!!!!!!!

niken a said...

yang ada berapa meter? 50?

Lioni Beatrix said...

IGHHH!!!!!!

dwi indra purnomo said...

muka lo kok jd kyk orang india nih huehehheh

Lioni Beatrix said...

ah ga elu aja koq yang bilang begitu, dwi.. hahaha