Ini cerita dua orang besar yang berjuang untuk perdamaian dunia. Dunia memandang dua orang ini benar-benar memperjuangkan suara rakyat.
Perbedaan dua orang ini tentu saja, Gandhi itu dari India, seorang lelaki, dan sudah meninggal. Sedangkan Aung San Suu Kyi dari Burma, seorang perempuan, dan masih hidup.
Persamaannya ya itu tadi, dua orang ini sama-sama berjuang untuk rakyat. Melawan kekerasan yang dilakukan oleh kolonialisme dan militerisme. Secara internasional tentu saja perjuangan mereka sangat dikagumi. Buktinya Suu Kyi pernah menerima nobel perdamaian di akhir 1980-an.
Tapi ada cerita menarik tentang dua orang ini yang saya temukan ketika berinteraksi dengan orang India dan orang Burma selama mengikuti School Of Peace di Bangalore-India.
Ternyata banyak orang di India yang tidak menyukai Gandhi. Yah, kalo kaum Hindu fundamentalis tidak usah dibicarakan. Mereka hanya sekumpulan orang-orang berotak kecil yang "membunuh" Gandhi. Tapi ternyata kaum paria atau panchamas atau dalit lebih-lebih tidak menyukai Gandhi.
"Gandhi itu tidak memperjuangkan suara kami sebagai kaum tertindas. Dia hanya memiliki ide agar kasta tinggi menyamakan derajatnya dengan kasta rendah. Menyadarkan kasta tinggi bahwa kita ini semuanya manusia. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi jika sistem kastanya tidak dihancurkan!"
Gandhi datang dari kasta ketiga (Vaisya). Di satu sisi bisa dikatakan Gandhi berada di titik aman tetapi disisi lain ini berarti Gandhi masih "takut" dengan kaum Brahmin dan Ksatria.
Mari kita membahas Aung San Suu Kyi. Ia seorang perempuan bertubuh kecil dengan suara yang tidak lantang tapi sangat ditakuti oleh militer Burma. Ketika ia berbicara, seluruh rakyat bahkan seorang prajurit rendah akan ikut mendengar perkataannya, karena suara perempuan ini adalah suara rakyat.
Seorang teman dari Burma bernama Nang dengan tegas mengatakan pada saya "SAYA TIDAK SUKA SUU KYI!"
Nang adalah pekerja sosial di sebuah desa di Shan State, sebelah utara Burma.
"Suu Kyi pernah berkata bahwa kalau ia terpilih menjadi presiden dia tidak akan memperjuangkan hak-hak kelompok etnis (di Burma, ada 7 negara bagian yang ditempati 7 kelompok etnis berbeda). Bagaimanapun ia seorang Burmese. Saya benci Burmese!"
Nang seorang Shan. Kelompok Militer berasal dari Burmese. Militer memutuskan bahwa nama Burma diganti dengan nama Myanmar. Sampai sekarang Nang tidak pernah menyebut negaranya Myanmar. Dia selalu memperkenalkan diri "Saya Nang, dari Burma!" karena Myanmar merupakan nama yang diberikan oleh militer. Tapi tetap saja Nang tidak suka orang-orang dari etnis Bumese. Dan Suu Kyi adalah seorang Burmese.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi jika Suu Kyi memenangkan pemilu taun ini (jika ia diperbolehkan untuk dicalonkan sebagai kandidat). Sepertinya nasib kami akan lebih buruk jika Suu Kyi menjadi presiden Burma. Bagaimanapun ia orang Burmese, tidak ada bedanya dengan militer!"
Secara internasional kedua orang ini memang diakui perjuangannya tapi bagi rakyatnya sendiri kadang mereka yang lebih tahu tentang orang-orang besar yang selalu mendapat pujian atau decak kagum dari orang-orang dari penjuru dunia.
Ah bagaimanapun mereka berdua cuma manusia biasa. (HAHAHAHA.. NGELES LO LI!)
-gujarat, 20 maret 2008-
2 comments:
paling ngga mereka memperjuangkan apa yg mereka percayai, secara maksimal! nobody perfect...right? :p
ooh... baguuus.... pencerahannn...
hahaha baguuusss baguuus
Post a Comment