Wednesday, July 14, 2010

Mama Rita

Nama lengkapnya de’Rhyta Merry. Kadang bapak saya mengejek dirinya “derita”. Bapak bilang ia selalu membawa penderitaan. Mungkin dia hanya bercanda tapi menjelang remaja saya merasa mama selalu membawa penderitaan untuk saya dan keluarga.

Kami tinggal di Empaci sekitar 4 jam dari Sintang, kota kecil yang jauhnya 8 jam dari Pontianak. Saya berumur 5 tahun ketika bapak bekerja di Empaci. Bapak bekerja di perkebunan karet. Kalau bapak sedang mengawasi penyadapan karet, saya dan kedua abang saya akan bermain ke rawa yang ada di belakang rumah dinas. Kami menaiki perahu dan menyusuri rawa. Sore itu kami ditemani oleh sekawanan orang utan yang sedang bermain di pepohonan. Saya tidak akan pernah lupa hari itu.

Dulu, mama selalu membantu orang Dayak di Kalimantan Barat. Mama membawa mereka menonton TV bersama karena di daerah pedalaman yang mereka tinggali, tidak ada TV sama sekali. Setiap Selasa, mereka akan datang ke kantor bapak dan menonton TV tapi mama tidak tahan karena badan mereka sangat bau. Orang Dayak di perkebunan memang tidak pernah mandi. Lalu mama menganjurkan mereka untuk mandi dengan sabun supaya wangi. Minggu depannya, ya, mereka memang datang kembali dengan berpakaian rapih dan bersih tetapi mereka menggunakan minyak sinyongnyong yang baunya tiga kali lebih hebat dari minyak angin cap kampak, mama hanya tersenyum pasrah.

Cerita lain lagi, mama pernah memberikan makanan kepada seorang kakek yang letak rumahnya jauh di pedalaman. Jarak satu rumah ke rumah lainnya kira-kira 2 kilometer jauhnya. Kakek ini hidup sebatang kara, mama memberikan makanan lebih. Jika biasanya satu keluarga menerima satu bungkus nasi, kakek mendapatkan dua. Setelah membagikan seluruh makanan, mama kembali ke rumah dinas. Menjelang malam, kakek ini ternyata mengejar mama dan mengembalikan satu bungkus nasi dengan alasan “tetangga saya mendapatkan satu kenapa ibu memberi saya dua bungkus?” Mama hanya terdiam dan bingung. Kakek itu berlari sejauh 20 kilometer dari rumahnya hanya untuk mengembalikan satu bungkus nasi.

Mama pahlawan bagi saya. Jika bapak saya bekerja di perkebunan, mama akan bekerja bersama ibu-ibu dharma wanita untuk membantu penduduk lokal. Mama akan pergi ke pelosok untuk mensosialisasikan kesehatan ibu-anak, KB, dan banyak lagi. Suatu hari saya pernah dibawa ke puskesmas dan melihat bagaimana proses melahirkan. Saya mual ketika melihat kepala bayi yang siap keluar dari mulut rahim. Sejak hari itu sampai menginjak remaja, saya tidak mau hamil.

Ketika bapak dan mama memutuskan untuk pindah ke Jawa Barat, saya tidak senang dengan keputusan itu. Saya menangis. Saya tidak mau pindah ke Bandung. Mama mulai berubah. Mama sering main judi. Dan saya tidak bisa lupa ketika dia mulai bermain kartu dan berbohong kalau itu hanya main-main saja. Saya pernah menendang perutnya sampai ia pingsan karena ia bermain judi. Saya kesal. Saya robek semua uang yang ada di meja. Saya benci mama.

Mama bukan pahlawan lagi bagi saya. 

6 comments:

rieska wulandari said...

Kota membuat orang berubah ya ? Sad..

Lioni Beatrix said...

sangat :(

ari doki said...

gw kaya pernah baca... jd pengen nulis ttg mama saya juga, tp ceritanya akan mellow-mellow-galau kynya... maybe later deh :

Lioni Beatrix said...

ari ni crosposting dr blog gue yg dulu :)

isna umaya said...

Saya menyimak ya...

dewi deme said...

T_T