Sudah dua kali saya ke India, well, tepatnya ke Bengaluru. Bukannya mengunjungi kota lain seperti Hyderabad atau Goa atau Chennai (d/h Madras) tapi saya kembali ke Bengaluru.
Bengaluru atau dalam bahasa Inggris, Bangalore, menjadi kota pertama yang saya kunjungi di India. Saya ingat, tanggal 7 Februari 2008 pukul 23.30 waktu India, saya melihat papan besar bertuliskan Welcome to Bangalore International Airport. Saya tersenyum. Ini pertama kali saya ke luar negeri dan Bangalore menjadi kota pertama yang saya kunjungi di luar Indonesia (transit di Bangkok ga diitung ya) .
Malam itu, saya dijemput oleh Partiban, supir yang bekerja di Visthar. Dia memegang papan nama bertuliskan Lioni Beatrik from Indonesia. Saya langsung menghampirinya, tersenyum “Hi, I’m Lioni!”
Partiban merasa senang karena akhirnya saya datang. Ia langsung mengantarkan saya ke Visthar, tempat saya akan menginap. Sepanjang jalan saya melihat kota Bengaluru. Gelap. Partiban menjelaskan kalau di Bengaluru, jam 6 sore listrik akan dimatikan dari pusat. Sebagian besar penduduk Bengaluru yang memiliki cukup uang untuk membeli genset dan bensin tentu tidak memiliki masalah. Tapi Bengaluru memiliki 70 pemukiman kumuh yang ditempati oleh orang-orang Dalit dan tidak memiliki genset. Jadi mereka akan menghabiskan malam tanpa penerangan listrik.
Sepanjang jalan saya mengajak Partiban mengobrol dan meminta ijin padanya untuk merokok. Dia merasa heran melihat perempuan merokok ketika itu. Dari wajahnya terlihat kalau sebenarnya ia tidak suka saya merokok. Tapi ketika itu sudah tengah malam dan tidak ada yang melihat ada perempuan merokok di dalam mobilnya, ia pun membolehkan saya untuk menghisap rokok yang saya bawa dari Indonesia, star mild menthol.
Ia bilang pada saya “You can not smoke in Vistar, Mr. David will be angry to see you smoking! You have to walk 5 kilometer from Visthar then you free to smoke!” Saya tau resiko tersebut dan tidak merasa keberatan.
Akhirnya setelah 1 jam, kami tiba di Visthar. Visthar itu semacam tempat retreat atau ashram yang letaknya di tengah hutan jauh dari pusat kota. Saya merasa takut ketika turun dari mobil karena ya, seperti yang kalian tahu, di India pasti banyak ular. Visthar ini dikelilingi oleh semak belukar, pohon kelapa, mangga, nangka, dan sawo. Nah, pantas untuk merasa takut kan?
Setelah berjalan sejauh 200 meter, akhirnya saya sampai di sebuah gedung 3 lantai. Partiban membawa saya ke kamar no. 10. Ia membangunkan teman sekamar saya yang sudah tertidur, Sunita Thapa, dia orang Nepal. Ia bingung melihat saya. Mungkin untuk ukuran orang Indonesia saya terlihat sangat besar.
“Hello, my name is Lioni!”
Sunita masih terlihat antara bingung dan kagum melihat saya. Mengingat tubuhnya sangat kecil dan kurus jauh sekali dibandingkan dengan ukuran tubuh saya yang besar.
Setelah merasa semuanya lancar, Partiban pun pamit. “Remember Lioni.. you can not smoke here!” Saya hanya tertawa “Goodnight and thanks!”
(bersambung..)
3 comments:
seneng ya punya pengalaman hidup di tpt baru...
terus akhirnya lu gak merokok selama di india lioni?
(hrrmphh... tidak mungkhiiin!!) hahahah!
nah itu tau jawabannya, ay.. hahahaha.. ikuti terus ceritanya..
*lanjutin baca ke part 2
Post a Comment