Thursday, July 15, 2010

Bengaluru, hari kedua

Saya terbangun di Bengaluru. Pagi yang aneh menemukan kalau itu bukan kamar saya dan rasanya seperti mimpi bisa berada di negara lain. Sunita sudah bangun dan memberesi tempat tidurnya ketika saya membuka mata. Ia tersenyum.

“Good morning!” sapanya sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.

“Morning!” balas saya setengah malas. Lalu saya menyeret tubuh saya untuk bangun. Ketika sudah sadar sepenuhnya, tiba-tiba saya menjadi semangat mengingat “hey ayolah ini pertama kali kamu berada di luar Indonesia. Coba rasakan apa bedanya!”

Saya beranjak bangun dan cuci muka. Lalu saya tanya pada Sunita apa yang biasanya dilakukan orang-orang di pagi hari. Sunita lalu mengajak saya untuk melakukan yoga. Ah, ini akan menjadi pengalaman yoga pertama untuk saya.

Kami pergi ke lantai tiga dan di sana sudah ada seorang lelaki menunggu Sunita, namanya Bibek dan ia dari Nepal juga. Lantai tiga ini semacam aula. Dari sini kita bisa melihat sekeliling Visthar yang didominasi padang rumput dan beberapa rumah penduduk. Beberapa saat saya tidak menyimak gerakan-gerakan yoga yang mereka lakukan karena sibuk merasakan eksistensi saya di negara lain.

Aneh. Saya mengharapkan ada pengalaman yang sama sekali berbeda ketika berada di negara lain. Ah, rumput yang ada di India sama saja, pohon kelapanya pun tidak berbeda dengan di Indonesia. Tapi sebentar, sayup-sayup saya mendengar suara sitar dan tabla. Jauh sekali. Entah dari mana, namun telinga saya mampu mendengarnya. Tidak salah lagi,  ini India. Lalu dari jauh terdengar klakson mobil-mobil India yang sangat khas. Bunyinya seperti terompet dan sangat ribut. Seperti suara klakson angkot yang dimodifikasi oleh supirnya untuk membuat ribut di jalan raya. Tolelolelolelolet. Ya semacam itu suaranya. Suara ini yang nantinya menjadi memento bagi diri saya. Jika mendengar suara yang mirip klakson ini, angan saya langsung pergi ke Bengaluru.

Tanpa sadar, Sunita dan Bibek memerhatikan saya yang sedang sibuk dengan pikiran saya sendiri. Saya menjadi tidak enak. Lalu kami kembali melakukan gerakan yoga yang lain. Terkadang mereka berdua masih kagum dan aneh melihat saya. Entah kenapa. Saya pun berusaha mengikuti yoga yang mereka lakukan. Kadang mereka tertawa melihat gerakan saya. Ya ya, ini yoga pertama saya. Jadi harap dimaklumi.

Yoga pertama pun selesai. Saya langsung menemui peserta lain. Oiya. Saya belum cerita mengapa saya sampai berada di Bengaluru. Lebih baik saya lanjutkan nanti saja ya..

3 comments:

isna umaya said...

*nunggu lanjutannya...

Lioni Beatrix said...

sabar ya.. hehe

heri . said...

to be continue...

di jadiin buku aja li sekalian...